RSS

Friday, September 17, 2010

Jerman Jadikan Pendidikan Islam Mata Pelajaran Wajib

Negara bagian Lower Saxony, Jerman, akan mulai memasukkan Islam ke dalam kurikulum inti sekolahnya sebagai bagian dari sebuah inisiatif untuk melawan pertumbuhan sentimen anti-Islam di Eropa.

Dr. Bernd Althusmann, Menteri Pendidikan Lower Saxony, mengumumkan bahwa sekolah-sekolah di negara bagian itu akan mulai memasukkan pendidikan Islam ke dalam kurikulum utama mereka.

"Saya rasa kita akan bisa memulai implementasinya pada tahun akademi mendatang," ujar Althusmann dalam sebuah kunjungan ke sebuah sekolah dasar di kota Hanover di mana dia menghadiri sebuah kelas pendidikan Islam.

Untuk saat ini, pendidikan Islam belum melampaui beberapa model percobaan di 42 sekolah di Lower Saxony. Hampir ke-2,000 murid di sekolah-sekolah itu sekarang mendapatkan pendidikan Islam.

Inisiatif tersebut dipicu oleh gelombang sentimen anti-Islam belakangan ini, terutama dengan pembentukan sebuah partai konservatif baru-baru ini yang meniru Partai Kebebasan Belanda pimpinan Geert Wilders, yang filmnya "Fitna" menyebabkan kemarahan kaum Muslim di seluruh dunia.

Partai baru itu, yang diberi nama Kebebasan, didirikan oleh anggota parlemen Berlin Rene Stadtkewitz, yang dikeluarkan dari Serikat Demokrat Kristen Angela Merkel atas sudut pandangnya yang menentang Islam dan undangannya pada Geert Wilders untuk berbicara di Berlin.

Stadtkewitz, 45, mengatakan bahwa Islam adalah alasan mengapa kaum imigran gagal berintegrasi ke dalam masyarakat Jerman karena penolakannya terhadap pandangan yang berbeda.

"Islam bukan hanya sebuah agama melainkan juga sistem politik. Islam tidak toleran terhadap mereka dengan pemikiran berbeda," ujarnya dalam sebuah pernyataan menyusul pembentukan partai tersebut.

Partai-partai anti-imigrasi bukan hal baru bagi Eropa. Partai Front Nasional Perancis di bawah kepemimpinan Jean-Marie Le Pen dan Liga Utara Italia.

Menurut Dominique Moisi, pendiri dan penasihat senior dari Institut Hubungan Internasional Perancis di Paris, tren anti-Islam bukan hal baru bagi Eropa, tapi baru mulai mendapatkan momentumnya beberapa tahun terakhir ini.

Bagi Moisi, budaya takutlah yang menentukan cara Barat memandang kaum Muslim.

"Seseorang mengalami rasa takut, dalam berbagai tingkat, terhadap orang lain, terhadap masa depan, dan kecemasan mendasar tentang hilangnya identitas dalam dunia yang semakin kompleks," tulisnya dalam artikel berjudul "Benturan Emosi."

Rasa takut itu, ujar para ahli, telah meningkat sejak dimulainya krisis finansial global. Politisi Eropa mengambil keuntungan dari situasi yang ada dan memanfaatkan rasa takut ini untuk menghasut kebencian terhadap Muslim.

Konstitusi Jerman menetapkan agama sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Inisiatif ini lahir dari kekejaman di era Nazi dan ditujukan untuk memberi kaum muda sebuah pondasi etis dan rasa identitas. Umat Katolik Roma dan Protestan telah menjalankan kelas tersebut selama puluhan tahun dan kaum Yahudi diberi hak yang sama pada tahun 2003.

Meski demikian, kaum Muslim mengalami hambatan. Tapi beberapa pengamat mengatakan kelas itu bisa membantu kaum Muslim untuk mengintegrasikan agama mereka dan identitas Jerman mereka dengan lebih baik. Sekarang,beberapa proyek percobaan menjadi bukti terbaru dari perubahan sikap Jerman terhadap minoritas Muslim.

"Kelas Muslim di sekolah-sekolah umum adalah ujian bagi integrasi," ujar Michael Kiefer, penulis sejarah pengajaran Islam di kelas-kelas Jerman."Kaum Muslim bisa melihat bahwa mereka mendapatkan apa yang didapat oleh agama lainnya. Itu memiliki dampak simbolik positif yang besar bagi mereka."(suara media)

1 comment:

  1. iktiar total dan tanpa kenal lelah adalah kunci perubahan. Barangkali itu adalah lahan syurga saudara-saudara kita di sana.

    ReplyDelete