RSS

Wednesday, August 25, 2010

Mengais Nafkah di Oyang 70: Sebuah Potret Kemiskinan

Rabu, 18 Agustus 2010, jam 4 dini hari. Disaat New Zealand tertidur lelap, Kapal Oyang 70 perlahan mulai tenggelam. 45 ABK berhasil selamat, 3 orang tewas dan 3 orang termasuk kapten hilang bersama kapal. Ada 36 orang ABK asal Indonesia bekerja di Oyang 70, dan 5 dari korban tewas serta hilang adalah ABK asal Indonesia. Kenapa banyak sekali WNI yang bekerja disana? Tentu saja demi sesuap nasi.

Kecelakaan Oyang 70 menjadi berita hangat di New Zealand, baik di media cetak ataupun elektronik. Berbeda dengan media di Indonesia yang sampai kemaren hanya satu media nasional dan 1 media lokal yang menulis secuil tentang Oyang 70. Tertutup oleh kasus-kasus politik di Indonesia yang sepertinya lebih menarik daripada berbicara mengenai potret nyata kehidupan bangsa.

Setelah dievakuasi dengan kapal Amaltal Atlantis melalui pelabuhan Lyttleton, para ABK yang selamat di tempatkan di Chrischurch. Disini mereka mereka menjalani proses investigasi, baik dengan pihak kepolisian, komite keselamatan transportasi (TAIC) dan asuransi. Kami, mahasiswa Indonesia dan warga Indonesia, berkesempatan membantu kelancaran investigasi yang selama proses didampingi oleh pihak KBRI. Proses yang memang harus dilalui sebelum kembali ke tanah air, tentu saja melelahkan apalagi setelah berhasil lepas dari tragedi ini. Kelelahan fisik dan mental sudah tentu pasti. Namun terlepas dari terjadinya kecelakaan, yang patut dicermati adalah alasan di balik pekerjaan para ABK ini yang bersedia merantau jauh demi sesuap nasi. Banyak kisah sedih dibalik tragedi ini, kisah sedih anak bangsa yang mengais rezeki di negeri asing.

Sebut saja namanya Wakidi. Dia sudah bekerja sebagai pelaut selama lebih kurang 10 tahun dan telah berlayar ke berbagai negara, namun berada di perairan New Zealand adalah yang terlama, 20 bulan. Dia harus meninggalkan istri dan 2 anaknya untuk waktu lama demi mengejar sesuap nasi. Hal yang sama juga dituturkan oleh Budi. Ia meninggalkan tanah air karena sulitnya mencari lapangan pekerjaan di Indonesia. Bekerja di kapal ikan dengan ritme kerja yang luar biasa.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pekerjaan ini tidaklah seenak yang dibayangkan. Banyak orang mengira bahwa bekerja sebagai pelaut memberikan akses untuk berjalan-jalan di negeri orang sambil bekerja. Tapi banyak juga yang tidak tahu bahwa terkadang mereka tidak bisa menikmati itu semua, karena dalam 1 bulan mereka hanya merapat selama 2 hari yang kadangkala harus digunakan untuk membersihkan kapal. Sisanya baru digunakan untuk berjalan-jalan yang sangat jarang sekali mereka peroleh. Ritme kerja yang tidak tentu karena tergantung akan jumlah tangkapan membuat mereka kadang harus bekerja lebih, bahkan terkadang tanpa tidur.

Tapi mereka tetap bertahan, dan ketika ditanya, hampir semua dari mereka menjawab, "Gak ada pilihan mbak. Mau kerja di Indonesia, mau kerja apa? Mo jadi petani, tanah yang digarap ndak ada. Mau berniaga, modal ndak ada. Dengan modal ijazah SMP atau STM sulit untuk mencari kerja di Indonesia. Biarlah ikut dengan kapal-kapal asing mbak, yang penting keluarga di kampung bisa makan".

"Kalau Ramadhan ini masih tetap puasa pak,..?" tanyaku.

"InsyaAllah mbak,..kalo saya batal hanya pas kapalnya tenggelam,...saya banyak minum air, soalnya badan saya tenggelam bersama kapal,.. Alhamdulillah,..Allah masih menyelamatkan saya. Saya cuma ingat anak dan istri,..saya pasrah mbak,..", jawab salah seorang ABK dengan logat Tegalnya yang kental.

Walaupun mereka tahu persis, merantau bukan merupakan pekerjaan gampang, namun mereka harus menempuh itu semua demi sesuap nasi. Apalagi bekerja di laut bukanlah suatu pekerjaan dengan resiko kecil, namun kondisilah yang memaksa mereka untuk itu dan tentu saja mau tidak mau mereka harus siap dengan segala konsekuensinya. Proses yang mereka jalani untuk bisa memperoleh pekerjaanpun tidaklah gampang, banyak agen-agen nakal yang berkeliaran. Banyak praktek-praktek yang memanfaatkan mereka dan menjadikan mereka sapi perah, alat produksi uang. Namun mereka mau tidak mau harus menerimanya, jika tidak asap tidak mengepul dari dapur and anak tidak bisa bersekolah.

"Lalu, kalo nanti sudah kembali ke tanah air, apa masih tetap mau bekerja di kapal?", tanya ku penasaran.

"Lah iya lah mbak,..ndak terbayangkan mau kerja dimana. Lah saya ndak punya ijazah,..cuma bisa nangkep ikan. Ya, anggap saja ini peringatan Gusti Allah....", terang seorang ABK sambil mengusap kedua matanya yang merah.

Keterbatasan pendidikan, keterbatasan pengetahuan, dan kebutuhan mereka akan uang menjadikan mereka sangat rentan untuk dieksploitasi. Mereka adalah komoditi, cheap labor. Dan kondisi ini makin diperparah, karena rendahnya perhatian dan hampir tidak adanya perlindungan hukum terhadap mereka. Bahkan banyak dari mereka yang tidak tahu hak-haknya. Dengan segala keterbatasan yang ada, tangan-tangan nakal lah yang beruntung, mengais rejeki dari keringat mereka.

Itulah potret kemiskinan bangsa, kita sibuk membahas masalah-masalah besar elite politik. Kita lupa bahwa yang saat ini membutuhkan perhatian adalah mereka-mereka yang merasakan langsung dampak dari krisis yang ada. Media pun lebih senang memberitakan para elite dan selebiriti daripada memotret kehidupan nyata sebagian besar masyarakat Indonesia. Ketika kita dilecehkan bangsa lain, kita heboh meneriakkan nasionalisme, tp apa? Semua hanya retorika belaka, hanya kata-kata tanpa makna, sementara itu apa yang kita perbuat untuk anak bangsa yang nyata-nyata menjadi korban, anak bangsa yang tergadai demi sesuap nasi.

Melihat para ABK yang tertunduk pasrah karena kehilangan seluruh harta benda dengan tenggelamnya Oyang 70,...Melihat mereka tertunduk pilu membayangkan masa depan,... Melihat mereka menangis pilu karena hanya 3 tubuh yang bisa kembali ke tanah air,....Melihat mereka tak hentinya mengumandangkan Yasin untuk para syuhada,....

Ketika hidup tidak memberikan banyak pilihan, ketika ibu pertiwi tidak ramah lagi, ketika sang penguasa tidak tahu mereka ada, ketika tidak ada keberpihakan kepada mereka,.......ketika itulah mereka memutuskan harus meninggalkan tanah air untuk mengais rejeki. Itulah potret carut marut kemiskinan, itulah Indonesia.

Sebuah catatan dari peristiwa tenggelamnya Oyang 70.(eramuslim)

No comments:

Post a Comment