RSS

Wednesday, August 25, 2010

Rela dan Syukur

Tidak banyak yang kami obrolkan ketika pertemuan pertama di angkutan umum saat itu, yach sekedar untuk mencairkan suasana. Esoknya ketika dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, diangkutan yang sama aku bertemu lagi dengan akhwat tersebut, dan duduk satu kursi. Kami pun larut dalam perbincangan. Disela-sela perbincangan dia bertanya “lagi hamil anak keberapa mba?” (karena kebetulan memang saat itu aku sedang hamil besar). Aku menjawab anak ke-4. Lalu akupun balik bertanya “mba sudah berapa putranya?”, karena setahuku diapun sudah berkeluarga. Dia terdiam sejenak, lalu menjawab “belum”. Akupun meminta maaf, lalu berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal lain.

Kamipun dipertemukan kembali di suatu acara kajian. Kajian ini bertemakan “Bahagia”. Dimana seluruh pesertanya wanita dan pengisinya seorang Trainer dan Motivator. Untuk memancing antusias para peserta serta agar suasana tidak kaku, sang motivator mengisi acara dengan role play-role play. Sang Trainer bertanya “coba saudari-saudari sebutkan hal-hal apa saja yang pernah membuat anda bahagia?” Satu persatu peserta angkat tangan, lalu menyebutkan hal-hal yang membuat bahagia. Macam-macam deh jawabannya. Ada yang menjawab jika anak-anak sehat, jika do’a terkabul, rezeki lancar, suami sayang dll. Aku pikir, samalah jawaban aku dengan yang lainnya, sudah terwakili, aku menikmati saja hihi...

Tapi ada satu jawaban dari salah satu peserta yang membuat aku kagum. Yaitu dari seorang akhwat yang aku temui diangkutan umum sebelumnya. Dia menjawab “Kebahagiaan-kebahagiaan yang disebutkan tadi adalah kebahagiaan seorang ibu pada umumnya, saya pribadi merasa sangat bahagia karena saya sudah menikah, dan saya sangat bahagia karena saya dapat membahagiakan ibu saya.” Subhanallah...

Mungkin jika saya tidak mengenal dia sebelumnya, jawaban dia saya anggap biasa saja, tapi karena saya sudah mengenal dia sebelumnya, saya merasa jawaban dia luar biasa. Berapa banyak orang yang usianya di atas dia belum menikah? Dan berapa banyak pula orang yang sudah menikah bisa membahagiakan ibunya? Bukankah harapan orang tua pada umumnya selain memiliki anak yang sholeh/sholehah, pun berharap anaknya juga memiliki kehidupan yang layak, kemandirian serta mampu memberikan perhatian disela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga.

Kehidupan terus berjalan dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaannya. Ada yang sakit, ada yang rezekinya sedikit, jodoh yang terlambat, anak yang tak kunjung didapat. Semua adalah ketetapan Allah. Tetapi akhwat ini mampu menghadirkan ketetapan Allah lainnya yang jauh lebih menyenangkan, ketimbang terfokus kepada ketetapan Allah yang tidak menyenangkan untuk dirinya. Yang tujuannya adalah memunculkan perasaan rela dan syukur kepada Allah azza wa jalla. Bukanlah hal yang mudah, jika dia tidak memiliki “kedekatan” yang baik kepada Allah.

***

Bersikap rela terhadap ketetapan Allah bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan. Taqdir Allah tak sama dengan keinginan. Keputusan Allah berbeda dengan rencana. Inilah ujian berat. Dengan rela kita yakin dibalik ujian pasti ada kasih sayang Allah, dibalik kesulitan pasti ada rahmat Allah, dibalik seberapapun yang dibagi Allah pasti ada rahasia yang terbaik untuk kita. Umar bin Khatab pernah berkata “Semua kebaikan itu berkumpul dalam kerelaan. Jika engkau sanggup maka hendaklah engkau rela. Jika tidak, maka bersabarlah”. Ali ra pun pernah berkata “Rela dengan keputusan Allah yang tidak menyenangkan, itulah keyakinan yang paling tinggi.”

Hikmah yang dapat dirasakan dengan bersikap rela terhadap ketetapan Allah adalah mendatangkan ketenangan, memberikan kekuatan untuk menghadapi berbagai macam kesulitan, dan menciptakan perasaan syukur.

Sebagaimana dikisahkan ada seorang sahabat Rosulullah saw yang bernama Saad bin Abi Waqash ra yang mengalami kebutaan, sedang mengunjungi kota Mekkah. Beliau terkenal dengan do’anya yang makbul. Lalu orang-orang berduyun-duyun menemuinya untuk meminta di do’akan. Abdullah bin Saib yang masih kanak-kanak bertanya “Engkau berdo’a untuk kebaikan orang lain, kenapa engkau tidak berdo’a untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu?” Saad bin Abi Waqash ra tersenyum dan berkata “Anakku, ketetapan Allah swt atas diriku lebih baik bagiku dari penglihatanku.”

Semoga Allah senantiasa menanamkan perasaan rela atas segala ketetapan-Nya dan melimpahkan keberkahan di dalamnya.(eramuslim)

No comments:

Post a Comment