RSS

Monday, July 5, 2010

Selayaknya Uni Soviet, AS Akan Segera Runtuh

Amerika Serikat akan runtuh dalam waktu dekat, demikian kata Alaeddin Boroujerdi, seorang anggota parlemen senior Iran. Menurutnya, pendekatan-pendekatan yang dilakukan AS mengingatkan kembali kepada kebijakan Uni Soviet sebelum pecah.

"Apa yang dilakukan Amerika kepada dunia mirip dengan yang dilakukan Uni Soviet sebelum pecah," kata kepala Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran tersebut pada hari Jumat (2/7) sebagaimana dikutip oleh kantor berita Fars.

"Saya yakin Amerika Serikat sekarang tengah dihantui disintegrasi, sama seperti eks (Uni) Soviet. Keruntuhan (AS) ini bisa dilihat dan dirasakan dengan mudah," tuturnya.

Mengenai kehadiran militer AS di Timur Tengah, Boroujerdi menyebut Washington pencuri internasional yang mencapai tujuan-tujuannya dengan menjajah negara lain.

Ia mencontohkan meningkatnya produksi narkotika di Afghanistan setelah invasi yang dipimpin oleh AS, menyiratkan bahwa kehadiran AS justru memperburuk situasi di negara tersebut.

Akhir juni lalu, para pejabat Iran menolak sanksu baru yang diloloskan AS terhadap Iran. Seorang anggota parleme menyatakan hal itu hanya akan menjadi bumerang bagi AS, menurut media Iran.

"Dengan menjatuhkan sanksi terhadap Iran, sejatinya AS menghukum perusahaan-perusahaan mereka sendiri," kata kantor berita tidak resmi Iran, Iran Student News Agency (ISNA), mengutip ucapan Alaeddin Boroujerdi. Boroujerdi adalah kepala Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran.

Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat AS sebelumnya menyetujui penjatuhan sanksi yang keras terhadap Iran guna menghentikan pengembangan nuklir Iran. Sanksi tersebut menarget perusahaan-perusahaan yang menjual produk minyak sulingan kepada Iran, demikian halnya dengan bank-bank internasional yang berbisnis dengan Garda Revolusioner Iran.

Boroujerdi mengatakan, "Bahkan dalam beberapa kasus, seperti penyediaan gas, kami bisa menggunakan potensi lokal atau sumber daya lain untuk memenuhi kebutuhan kami," seperti dikutip kantor berita ISNA.

April lalu, Boroujerdi mengecam AS karena merupakan satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir di masa lalu.

Ia mengatakan, Washington seharusnya meminta maaf karena telah melanggar kewajibannya berdasarkan hukum internasional dan kesepakatan nonproliferasi nuklir (NPT).

Menurutnya, kritikan tajam Iran terhadap tiadanya komitmen AS telah semakin memperkuat "gelombang rasa jijik dan penolakan" menentang kebijakan-kebijakan AS.

Ia mengkritik kebijakan nuklir baru AS yang secara terbuka menyebut Iran dan Korea Utara sebagai target potensial untuk diserang dengan senjata nuklir. Ia menambahkan, kebijakan semacam itu meresahkan.

"Tidak diragukan lagi, ancaman serangan nuklir terhadap Iran mengakibatkan keresahan dunia, tidak lebih dari 60 tahun setelah dijatuhkannya bom atom Hiroshima di Jepang," kata Boroujerdi.

Ia mengacu pada Nuclear Posture Review (NPR) yang disusun AS. Di dalamnya, pemerintah Obama berjanji tidak menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara anggota NPT yang tidak menyimpan hulu ledak nuklir, kecuali Iran dan Korea Utara.

NPR disusul dengan kecaman terhadap Iran, yang menandatangani NPT sejak 1968 namun tidak dimasukkan dalam daftar negara yang tidak ditarget AS.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengecam AS setelah negara adidaya tersebut mengungkapkan batasan-batasan baru penggunaan senjata nuklirnya, namun menekankan bahwa ada pengecualian terhadap Iran dan Korea Utara, keduanya menuding Barat telah mengolok-olok resolusi PBB mengenai program nuklir kedua negara tersebut.

"Obama mengeluarkan pernyataan tersebut karena dia adalah seorang politisi amatir yang tidak berpengalaman," kata Ahmadinejad kepada televisi Iran. "Politisi Amerika sama seperti koboi. Kapan pun mereka dihadapkan pada kelemahan hukum, mereka langsung mengangkat senjata."

Amerika Serikat adalah satu-satunya negara di dunia yang mengembangkan senjata nuklir dan merupakan satu-satunya negara yang pernah menggunakannya dalam peperangan.(suaramedia)

No comments:

Post a Comment