RSS

Tuesday, July 6, 2010

Vidoe Game Kemenangan AS Di Irak Sulut Kontroversi

Pengembangan sebuah video game yang menggambarkan pertempuran di Fallujah dan kemenangan militer Amerika memicu kemarahan diantara para aktivis, veteran, dan keluarga dari para tentara yang terbunuh dan menimbulkan pertanyaan secara etik tentang perubahan dari sebuah perang yang mengerikan menjadi sebuah alat untuk hiburan.

Atomic Games pertama mengumumkan peluncuran pertempuran kontroversial Six Days in Falluja (Enam Hari di Fallujah), berdasarkan pada pertempuran dalam kehidupan nyata yang terjadi pada 2004 dan diberi kode nama Operasi Phantom Fury, pada April 2009.

Pada akhir Juni 2009, presiden Atomic Games Peter Tamte mengumumkan bahwa proyek tersebut hampir selesai, namun pendaratan pada sebuah penerbit masih terdapat sebuah masalah. Hanya 21 hari setelah peluncuran game tersebut diumumkan, Konami Corporation mundur dari proyek tersebut karena penerbitnya menghadapi kemarahan publik dan kabar negatid dari pers.

Perusahaan Konami dikabarkan berada di bawah tekanan perusahaan induk di Jepang. Permainan tersebut diumumkan pertama kali di Jepang dan menyebabkan sebuah kegemparan yang Tamte hubungkan dengan perbedaan kebudayaan dan fakta bahwa orang-orang Jepang tidak memandang perang Irak dengan cara yang sama dengan orang Amerika.

Banyak kritik berpendapat bahwa mengubah sebuah konflik brutal yang meninggalkan lebih dari 2.000 korban tewas, yang kebanyakan adalah penduduk sipil, untuk dijadikan hiburan, keduanya adalah merupakan hal yang "tidak sensitif" dan "tidak pantas". Banyak kritik mengatakan bahwa bermain bukanlah cara yang tepat mengalamatkan subjek masalah serius terutama ketika kehilangan nyawa manusia terlibat didalamnya. Dengan melakukan hal seperti itu, mereka menambahkan, akan mendorong masalah penting menjadi dianggap enteng.

Aktivis hak asasi manusia, keluarga para tentara yang meninggal dalam pertempuran tersebut atau pada umunya di Irak, begitu juga dengan veteran perang Irak berbagi pandangan yang sama. Beberapa penggemar game bahkan melihat topik tersebut tidak cocok untuk sebuah video game.

Di satu sisi, Tamte membela game tersebut sebagai sebuah kronik atau sejarah yang jujur dari sebuah pertempuran yang berani dimana para tentara AS yang mengorbankan nyawa mereka, dikenang dan dihormati.

Fakta bahwa game tersebut fokus pada kemenangan dari militer Amerika sementara mengabaikan kematian para penduduk sipil adalah satu diantara alasan utama untuk reaksi yang mengikuti pengumuman peluncurannya.

Menurut Tamte, game tersebut benar-benar menampilkan warga sipil yang tidak berdosa dan membuat inti sorotan peraturan dari pertempuran tersebut untuk menunjukkan bahwa para Marinir tidak menembak warga sipil dan hanya menargetkan kepada para penyerang dan yang digolongkan sebagai "kombatan".

Tamte menambahkan, oleh karenanya game tersebut akan berakhir jika pemain menganggap peran seorang tentara Amerika dalam game tersebut menembak ke arah seorang penduduk sipil.

Dalam menanggapi kemarahan dimana ide game tersebut bertemu, Tamte meminta orang-orang untuk melihat game tersebut dari sebuah perspektif yang berbeda, sebagai sebuah gambaran dari sebuah situasi yang mengerikan yang sebaliknya dikenal oleh orang-orang yang belum pernah melewati pengalaman tersebut.

"Tujuan kami adalah untuk memberikan orang-orang pandangan seperti itu, pandangan tentang bagaimana rasanya menjadi seorang Marinir selama kejadian tersebut, bagaimana rasanya menjadi seorang warga sipil di kota tersebut dan bagaimana rasanya menjadi seorang anggota kelompokperlawanan," Tamte mengatakan pada kantor berita Los Angeles Times.

"Bagi kami, tantangannya adalah bagaimana Anda menunjukkan horor pada perang dalam sebuah permainan yang juga menghibur."

John Choon, manajer brand senior di Konami, membela game tersebut sebelum perusahaannya menariknya dan mengatakan bahwa ide tersebut pertama kali muncul dari para veteran sendiri saat mereka menginginkan untuk menceritakan cerita mereka dan cobaan berat yang mereka hadapi di medan pertempuran tersebut.

Setelah meninggalkan proyek tersebut, Wakil Presiden pemasaran Konami Anthony Crouts mengatakan bahwa perusahaan tersebut tidak berkeinginan untuk ambil bagian dalam sebuah game yang membuat orang-orang merasa tak nyaman.

"Kami bukan pro-perang," ia mengatakan pada Wall Street Journal. "Kami tidak berusaha untuk membuat orang-orang merasa tidak nyaman. Kami hanya ingin membawa sebuah pengalaman hiburan yang menarik. Pada akhirnya, ini hanyalah permainan."

Game tersebut diawali dengan pengeboman helikopter Amerika di Fallujah. Sebuah Masjid terlihat di latar belakangnya dan asap-asap naik dari tengah kota sementara tentara-tentara Amerika menembaki para "pemberontak".

Atomic Games, salah satu dari pengembang video game besar di AS, mengkhususkan dalam permainan perang. Produks yang paling dikenal dari perusahaan tersebut termasuk Close Combat, World at War dan V for Victory.(suaramedia)

No comments:

Post a Comment