RSS

Tuesday, June 15, 2010

Mantan CIA: Israel Lebih Penting Daripada Nyawa Warga Negara AS

Bagi negara AS, membela Israel jauh lebih penting bahkan dibandingkan dengan nyawa warga negaranya sendiri yang dibunuh oleh tentara Israel. Sudah banyak warga negara AS yang menjadi korban kebrutalan tentara Zionis, tapi AS tidak pernah menekan apalagi menjatuhkan sanksi pada sekutunya itu.

Mantan analis di CIA, Ray McGovern dalam wawancara dengan stasiun televisi berbahasa Inggris Iran mengakui bahwa Washington tidak pernah memperkarakan sejumlah insiden dimana tentara Israel dengan sengaja membunuh warga negara AS. Ia mencontohkan peristiwa serangan Israel ke kapal USS Liberty milik Angkatan Laut AS yang terjadi pada 8 Juni 1967.

"Tidak ada penyelidikan atas peristiwa itu, meski Angkatan Udara dan Angkatan Laut Israel dengan sengaja menyerang dan berusaha menenggelamkan kapal USS Liberty yang saat itu masih berada di perairan internasional. 34 tentara Angkatan Laut AS tewas dan 170 orang luka-luk serius dalam insiden tersebut,' kata McGovern.

Terkait peritsiwa itu, pemerintah AS dan Israel hanya mengeluarkan laporan yang isinya bahwa insiden itu hanya sebuah "kesalahan" karena tentara Israel tidak mengenali identitas USS Liberty dan dikira sebagai kapal perang milik Mesir ynag ketika itu berperang melawan Israel. Kongres AS menolak penyelidikan lebih lanjut meski sejumlah diplomat dan agen intelijen AS yang mengetahui ihwal serangan Israel itu membantah laporan pemerintah AS dan Israel. Mereka meyakini serangan itu bukan "kesalahan" tapi kesengajaan.

Serangan tentara Israel ke kapal USS Liberty pun dipetieskan dan menjadi insiden terbesar yang dialami Angkatan Laut AS tapi tidak diselidiki. Warga AS lainnya yang menjadi korban kebrutalan tentara Zionis adalah Rachel Corrie. Pada bulan 2003, Corrie yang masih 23 tahun dan salah satu aktivis internasional pro-Palestina tewas, dilindas buldoser militer Israel saat berusaha menghalangi tentara Zionis yang akan menggusur rumah seorang warga Palestina di Gaza.

McGovern mengatakan, peristiwa dibunuhnya Rachel Corrie terjadi beberapa hari sebelum invasi AS ke Irak dan Israel tahu bahwa media AS akan lebih didominasi pemberitaan soal invasi ke Irak daripada memberitakan warga negara AS yang dilindas buldoser Israel. Benar saja, pemerintah AS sama sekali tidak melontarkan protes terhadap Israel atas kematian Corrie bahkan lebih mempercayai laporan pihak Israel atas insiden yang menimpa Corrie.

Yang masih segar dalam ingatan dunia internasional adalah serangan brutal tentara Zionis Israel ke kapal Mavi Marmara, kapal yang membawa rombongan aktivis "Freedom Flotilla" untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza yang sudah hampir 3 tahun diblokade Israel. Dalam serangan itu, 20 aktivis kemanusiaan tewas dan 40 orang lainnya luka-luka dan salah satu aktivis yang tewas adalah Furkan Dogan, seorang warga negara AS yang tinggal di Turki.

Sama dengan insiden-insiden sebelumnya, tak ada protes dari pemerintah AS atas kematian warga negaranya itu oleh tentara Israel. Menurut McGovern karena merasa kebal hukum dan selalu mendapat perlindungan, Israel tak segan-segan membunuh siapa saja, bahkan warga negara AS, negara yang menjadi sekutu dekatnya. Atas sikap AS yang lebih mementingkan Israel itu, McGovern berkomentar, "Apa yang bisa kita lakukan adalah melihat kembali peristiwa tahun 1967, ketika presiden AS ketika itu berulang kali menyampaikan pernyataan bahwa ia tidak peduli berapa banyak pelaut AS yang terbunuh, tidak peduli jika kapal AS tenggelam, karena ia tidak mau mempermalukan sekutunya, Israel." (eramuslim)

No comments:

Post a Comment