RSS

Friday, June 11, 2010

Memuliakan para Sahabat

Dari Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian mencela sahabat-ku, sungguh jika salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang dari mereka dan tidak pula mencapai separuhnya”. (HR. Bukhari no. 3673, Muslim no 2541).

Mutiara Hadits:
1. Hadits ini mengandung isyarat akan perintah memuliakan para sahabat Nabi SAW, sebab merekalah para pengemban syari’at Islam setelah Rasulullah SAW wafat. Bahkan cinta dan hormat pada mereka merupakan bukti iman (1).
2. Definisi paling shahih tentang sahabat adalah: “Orang yang berjumpa dengan Nabi SAW dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam” (2).
3. Larangan mencela salah seorang dari mereka. Sebab mencela dan mendiskreditkan mereka, sama artinya mencela syari’at itu sendiri. Imam Abu Zur’ah, salah seorang guru imam Muslim menyatakan: "Jika engkau menyaksikan seorang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah ia adalah zindiq (3). Yang demikian, Rasulullah itu benar dan al-Qur'an itu benar, lalu yang menyampaikan kepada kita al-Qur'an dan sunnah-sunnah itu adalah para sahabat Rasulullah. Hanya saja (kelancangan ini) bertujuan merusak saksi-saksi (agama) kami untuk membatalkan al-Qur'an dan sunnah” (4).
4. Keutamaan generasi sahabat ketimbang generasi-generasi setelah mereka. Bahwasanya, mereka adalah generasi terbaik sepanjang sejarah manusia (5). Amal-amal shalih mereka pun memiliki kedudukan tinggi dibanding generasi setelahnya. Sebab mereka mendapat keutamaan hidup bersama Rasulullah (6), serta berjuang dan berdakwah bersama beliau. Olehnya, kebaikan yang dilakukan oleh generasi sesudah mereka, juga merupakan saham pahala bagi para sahabat Nabi (7).
5. Mencela sahabat termasuk dosa besar yang harus diberi hukuman ta’dzir agar jera (8). Bahkan dalam sebagian kondisi (yakni membencinya), pelakunya bisa keluar dari Islam (9).
6. 1 mud sama dengan ¼ sha’, adapun 1 sha’ menyamai 4, 127,30 Liter atau sekitar 3 kg (10).

______________
(1). Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda: “Tanda iman adalah cinta (kaum) Anshar, dan tanda nifak adalah benci (kaum) Anshar”. (HR. Bukhari dan Muslim).
(2). Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishobah Fii Tamyiiz as-Shahabah, 1/6.
(3). Zindiq artinya: Orang yang menyembunyikan kebencian pada Islam, dan ingin merusaknya dari dalam.
(4). Imam al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah hal. 96.
(5). Dari Imran bin Hushain, Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik umat-ku adalah yang hidup di zamanku, kemudian mereka yang datang setelahnya, kemudian yang datang setelahnya”. (HR. Bukhari no. 3650, Muslim no. 2535).
(6). Ibnu Umar berkata: “Jangan kalian mencela sahabat-sahabat Muhamad. Sungguh, keberadaan salah seorang dari mereka sesaat (bersama Nabi) lebih baik daripada amal kalian selama empat puluh tahun”. (Riwayat Ahmad dalam Fadhail as-Shahabah, 1/57, Ibnu Majah, 1/31, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, 1/32).
Imam an-Nawawi berkata: “Keutamaan menemani (Rasulullah) tidak dapat ditandingi oleh amal, dan tidak ada sesuatupun yang dapat menyamai kedudukannya. Keutamaan-keutamaan tersebut tidak dapat diperoleh melalui analogi, sebab ia adalah karunia Allah yang diberikan pada siapa yang dikehendaki-Nya”. (Lihat: an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 16/93).
(7). Hal ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, beliau berkata: “Sebab keutamaan dan keunggulan infaq mereka (para sahabat), karena ia dikeluarkan pada masa-masa darurat serta kondisi kritis. Ini berbeda dengan selain mereka. Demikian pula, lantaran infaq mereka itu untuk tujuan menolong Nabi SAW serta melindungi beliau. Dan ini juga tidak ada pada generasi setelah mereka. Disamping dikarenakan jihad dan ketaatan-ketaatan mereka yang lainnya”. (Lihat: an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 8/321).
(8). Imam Ahmad bin Hambal berkata: Wajib atas pemerintah memberi hukuman dan siksaan serta tidak boleh memberi maaf baginya (pencela sahabat). Bahkan harus menegakkan hukum dan memaksanya untuk bertaubat. (Lihat: Ahmad bin Hambal, as-Sunnah, hal. 78).
(9). Imam Malik berkata: “Mereka yang membenci para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang kafir”. (Lihat: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, 7/367-368).
(10). Lihat Majallah al-Buhuts al-Islamiyah, edisi 59/177, menukil fatwa Lajnah Daimah, no. 12572. Wallahu a’lam.(Rappung Samuddin)

No comments:

Post a Comment