RSS

Monday, June 28, 2010

Skuad Multi Etnis Jerman: "Kami adalah Tim!"

Mereka bernama Mesut Özil, Cacau atau Sami Khedira, pahlawan Jerman keturunan asing yang menjadi harapan terbesar pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Skuad multi-etnis yang tampil tahun ini menandai perubahan besar pada sepak bola Jerman. Oleh Srecko Matic

Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan. Jerman bertarung melawan Serbia. Orang membayangkan susunan yang dapat menjadi posisi awal. Neuer – Boateng, Tasci, Aogo, Mertesacker – Khedira, Trochowski, Özil, Podolski – Cacau, Klose.

Dalam kesebelasan hasil imaginasi ini, sembilan pemain memiliki apa yang disebut latar belakang imigran. Semuanya, kecuali penjaga gawang Neuer dan pemain belakang Mertesacker. Dua pemain yang menjadi cadangan juga keturunan asing, Marin dan Gomez. Lebih dari separuh pemain di lapangan, yang mewakili Jerman di Afrika Selatan berasal dari delapan negara.

Jacques Rogge, presiden Komite Olimpiade Internasional pasti menyukai tim yang dipimpin pelatih nasional Jerman Joachim Löw.

"Olah raga adalah alat mengagumkan untuk integrasi sosial," demikian dikatakan Rogge dalam sebuah diskusi akhir Mei lalu di Darmstadt. Sepak bola memang menjadi penggagas integrasi sosial dan pembauran orang-orang dari etnis minoritas. Dua hal ini menjadi ide dasar olimpiade.

Helmut dari Sao Paolo

Salah satu pemain kader untuk piala dunia yang paling digemari dan menjadi tumpuan harapan adalah seseorang bernama Helmut. Itulah nama panggilan Cacau, pemain yang berasal dari Brasil dan lahir di Sao Paolo. Pemain penyerang itu datang ke Jerman sepuluh tahun lalu sebagai anggota tim sepak bola kelas bawah.

acau berjuang untuk karirnya, dari bawah hingga ke posisi teratas. Kontrak kerja pertamanya di Jerman ditandatanganinya pada sebuah asosiasi liga negara bagian di München. Kemudian klub-klub sepak bola besar mulai tertarik pada penyerang kuat tersebut.

Beberapa hari lalu "Helmut" memperpanjang kontraknya pada klub sepak bola VfB Stuttgart. Ini tentunya melibatkan gaji berjumlah jutaan. Tahun 2009 ia menjadi warga negara Jerman. Ia lulus ujian untuk menjadi warga negara tanpa membuat kesalahan satupun. Sekarang ia berkata, "Saya senang, karena Jerman mengadopsi saya. Seluruh mentalitas saya, mentalitas Jerman."

Orang tua beberapa pemain lainnya dalam tim nasional Jerman berasal dari Bosnia Herzegovina, dari Turki, Ghana, Tunesia, Spanyol, Nigeria dan Polandia. Tetapi anak-anak mereka memutuskan untuk memilih Jerman. Dengan mengenakan simbol burung elang di bagian dada, mereka memperjuangkan kemenangan keempatkalinya tim nasional sepak bola Jerman.

"Tidak penting, dari mana asal kamu!"

Marko Marin lahir di provinsi Bosnia Herzegovina. Ketika ia baru berusia dua tahun, orang tuanya meninggalkan daerah perang tersebut, menuju Frankfurt am Main. Ketika dewasa, Marin memutuskan untuk menjadi warga negara Jerman.

Mario Gomez lahir di negara bagian Baden Württemberg. Ayahnya berasal dari sebuah wilayah kecil di Spanyol. Lukas Podolski, Miroslav Klose und Piotr Trochovski lahir di Polandia, dan datang ke Jerman ketika masih kecil.

Ayah Jerome Boateng, yang lahir di Berlin, adalah anak orang Ghana. Ayah Sami Khedira berasal dari Tunisia. Darah Nigeria mengalir di tubuh Dennis Aogo. Orang tua Serdar Tasci dan Mesut Özil berasal dari Turki. Tetapi kedua olahragawan itu lahir di Jerman. "Kami semua ingin kesuksesan dalam piala dunia. Tidak penting dari mana asal kamu. Kita satu tim," demikian dikatakan Sami Khedira.

Ikatan Sepak Bola Jerman (DFB) tampak sangat bangga dengan tim piala dunia 2010. Kekuatan integrasi dalam olah raga tidak dapat dibuktikan dengan lebih baik lagi.

Sejak 2007 DFB dan sponsor utamanya, Mercedes Benz, setiap tahunnya memberikan dana untuk proyek-proyek dan berbagai aktivitas, yang mendorong integrasi anak-anak dan remaja, terutama anak perempuan dengan latar belakang imigran, melalui hadiah integrasi "Sepak Bola. Banyak Kebudayaan-Satu Antusiasme".

Walaupun pujian banyak diberikan, orang tidak boleh lupa bahwa hanya empat tahun berselang, pemain nasional Jerman berkulit hitam Gerald Asamoah dan Patrick Owomoyela mendapat serangan bersifat rasialis yang menjijikkan. Kasus ini bahkan sampai ke pengadilan.

Sepak Bola Sebagai Kesempatan Perbaiki Karir

Menurut laporan terbaru Badan Statistik Jerman, tahun 2008 satu dari setiap lima penduduk Jerman berketurunan asing. Dari 15,9 juta orang keturunan asing, 2,9 juta berasal dari Turki.

Sudah tampak jelas selama bertahun-tahun, bahwa terutama sepak bola yang merupakan cabang olah raga yang paling disenangi di Jerman, dipandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan status di masyarakat, jika tidak ada cara lain. Menendang bola secara terorganisir juga dapat dilakukan anak-anak dari keluarga dengan keadaan sosial lemah, berbeda dengan cabang olah raga lainnya yang lebih mahal.

Dalam masyarakat, yang semakin dipengaruhi globalisasi dan migrasi, makna integrasi semakin penting. Buah keberhasilan dari proses ini, yang termasuk deretan pemain sepak bola pada piala dunia menjanjikan kesuksesan.

Campuran pemain, yang berusaha memenangkan piala dunia di bawah panji Jerman, dapat menjadi contoh bagi kebersamaan yang berhasil. Jerman mungkin akan menghadapi dongeng musim panas baru, berkat para pemain yang keturunan asing.(qantara.de)

No comments:

Post a Comment