RSS

Monday, June 28, 2010

Mesut Özil : Pemuda Sopan Berambut Jabrik

Ia disebut-sebut segai salah satu talenta terbesar dan harapan Jerman pada Piala Dunia Afrika Selatan: Mesut Özil, sutradara lapangan tengah berdarah Turki yang memilih untuk meninggalkan tanah leluhurnya. Oleh Andre Tucic.

Selambatnya sejak pertandingan antara Jerman dan Australia di babak penyisihan grup Piala Dunia 2010, Mesut Özil merebut perhatian dunia internasional. Beberapa harian Eropa bahkan cukup berani untuk menyamakan Özil dengan pesepakbola terbaik dunia, Lionel Messi.

Pemuda sopan berambut jabrik ini sejak lama menjadi sensasi, jauh sebelum Piala Dunia bergulir. Sejak dua setengah tahun yang lalu, persatuan sepakbola Jerman dan Turki memperebutkan pria kelahiran Gelsenkirchen ini bak memperebutkan bocah yang hilang.

Bulan Sabit Atau Elang Jerman

Sejak 2007 Özil secara resmi menanggalkan kewarganegaraan Turki dan beralih menjadi Jerman. Meski tim nasional Turki menuntut kembalinya 'si anak hilang'. Buat Turki, memperjuangkan Özil bukan hanya berharga dari segi olahraga, tapi juga gengsi. Hanya saja perhimpunan sepakbola Jerman DFB enggan melepas gelandang tengah yang kala itu masih berusia 18 tahun.

"Kami akan melakukan semuanya agar dia dapat bermain untuk kami," papar pelatih nasional Turki waktu itu, Fatih Terim, yang senang melontarkan pernyataan tajam dengan cara menyindir tentang urusan dalam negeri. Özil pada waktu itu bermain untuk Jerman dalam pertandingan persahabatan dan secara teoretis, dia juga dapat bermain untuk Turki. Baru setelah pertandingan resmi – yaitu kualifikasi Piala Eropa atau pertandingan Piala Dunia – seorang pemain tidak lagi dapat berganti tim nasional. Özil pun jual mahal.

Akhirnya, Özil menolak tawaran Terim dan bermain untuk tim nasional Jerman U-21 dalam pertandingan antar negara. Ia yakin ingin bermain untuk Jerman, demikian diungkapkan Özil. Meski hal itu diucapkan dengan tegas olehnya, Özil terkadang terlihat bimbang dalam menetapkan pendiriannya.

"Dengarkan Kata Hatimu"

Fungsionaris perhimpunan sepakbola Turki TFF juga meminta Altintop bersaudara untuk meyakinkan Özil. Pemain kembar Altintop yang kelahiran Gelsenkirchen ini sudah memutuskan bermain untuk Turki.

"Dengarkan kata hatimu," kata Altintop bersaudara pada Özil. Setelah perkataan yang sarat emosi ini, Özil tidak lagi yakin apakah dirinya akan berlaga untuk Bulan Sabit atau Elang Jerman.

Di Turki berkembang diskusi panas mengenai akar nenek moyang, kehormatan dan tanah air. Sementara di Jerman, surat kabar kuning menyebut Özil sebagai "Schnözil" atau "banyak ulah", karena Özil mempertanyakan lagi keputusannya untuk bergabung dengan DFB. Permainan tarik ulur ini kemudian dimenangkan perhimpunan sepakbola Jerman DFB, dan pemainnya harus menebusnya dengan harga yang mahal.

Tak lama setelah Özil mengumumkan keputusannya, buku tamu dalam situs internetnya harus ditutup. Terlalu banyak penghinaan yang ditujukan padanya. Seorang anggota parlemen Turki mengucapkan selamat pada Özil dan menyebut keputusan Özil sebagai simbol persahabatan dua negara. Sementara itu suara-suara nasionalis sayap kanan memandangnya lain dan menanggapi keputusan Özil dengan ejekan.

Di Jerman, pejabat khusus urusan integrasi Maria Böhmer dan Ketua Partai Hijau Cem Özdemir dan Claudia Roth angkat bicara. Yang terakhir berbunyi lantang. "Keputusannya untuk memilih DFB, merupakan isyarat yang baik! Özil bisa menjadi contoh bagi jutaan orang di Jerman," begitu yang dikatakan Claudia Roth. Özil sudah membuktikannya, dengan memilih DFB, ia mendapatkan imbalannya, dengan peningkatan sosial.

Berada di Jalur Perdebatan mengenai Integrasi

Kejadian ini menunjukkan, walau pun telah diupayakan, terkadang politik Jerman masih kikuk menghadapi integrasi yang berhasil. Namun politik Jerman tidak khawatir menghadapi Özil yang ingin berintegrasi dan menggunakan citra multi budaya untuk kepentingan partai.

Werder Bremen, sebagai klub sepakbola yang dikenal sangat menghormati para pemainnya, sangat konsekuen melindungi pekerjanya.

Menurut keterangan bagian pers dan media Werder Bremen, Özil jangan pernah ditanya lagi mengenai asal usulnya. Pemain tengah itu adalah pesepakbola profesional dan tidak tertarik untuk menjadi contoh integrasi, apalagi mengikuti arus debat integrasi di Jerman atau diskusi berbau nasionalis Turki.

Werder Bremen benar. Özil baru berusia 20 tahun dan pribadi yang sederhana. Ia suka mendengarkan musik rap Jerman dari penyanyi Bushido, menggemari film Will Smith, dan tidak menyukai mata pelajaran seni di sekolah. Ia hanya ingin berada di garis depan sepakbola, hanya untuk bermain sepak bola – Claudia Roth.(qantara.de)

No comments:

Post a Comment