RSS

Wednesday, June 9, 2010

Rusia, "Wilayah Paling Hancur Di Planet Bumi"

Setelah satu dekade pertumpahan darah, penghancuran dan dilaporkan melakukan pelanggaran besar hak-hak azazi manusia, Rusia telah mendeklarasikan sebuah akhir dari operasi militernya di Chechnya, tetapi tanpa memeberikan informasi yang jelas tentang penarikan ribuan pasukannya dari Republik Caucasus.

"Alexander Bortnikov, direktur Jawatan Keamanan Rusia, telah membatalkan putusan yang menyatakan sebuah operasi perlawanan terhadap para pejuang di daerah republik ketika tengah malam pada 16 April," Komite Anti-teror Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan.



"Keputusan tersebut mengarah pada pembentukan kondisi-kondisi untuk proses penormalan masa depan dari keadan di republik tersebut, rekonstruksinya dan perkembangan dari lingkup sosio-ekonominya.

Chechnya telah dibinasakaan oleh konflik sejak 1994, dengan hanya tiga tahun perdamaian relatif setelah perang pertama antara pasukan Rusia dan pejuang-pejuang Chechnya berakhir pada Agustus 1996.

Perang kedua di bawah perintah oleh almarhum presiden Boris Yeltsin pada 1999, sebulan sebelum ia mengundurkan diri dan disukseskan oleh Vladimir Putin, yang sekarang adalah Perdana Menteri.

Berton-ton bom menghujani ibu kota Grozny pada 2002, menuntun PBB untuk menggambarkannya sebagai "Wilayah yang paling hancur di planet bumi."

Penjaga hak-hak azazi manusia Internasional mengatakan pada sebuah pernyataan gabungan bahwa pemerkosan, penyiksaan, dan eksekusi di luar pengadilan oleh pasukan-pasukan Rusia merupakan kejadian-kejadian setiap hari di Checnya.

Ribuan pelarian ke negara tetangga Ingushetia hidup sebagai pengungsi di kamp-kamp tenda yang tergempur, takut untuk kembali ke rumah karena rasa tidak aman. Setidaknya 100.000 warga sipil – sekitar 10 persen dari jumlah penduduk – diperkirakan dibunuh dalam kedua perang tersebut, walaupun kelompok hak-hak azazi mengatakan bahwa jumlah sesungguhnya jauh lebih tinggi.

Presiden Chechnya yang pro-Moskow, Ramzan Kadyrov menyambut keputusan Rusia.

"Sekarang republik Checnya… adalah sebuah daerah yang penuh kedamaian, berkembang dan membatalkan operasi perlawanan terorisme, akan hanya mengajukan pertumbuhan ekonomi di republik tersebut," ia mengatakan pada agen berita the Russian Interfax.

"Para pimpinan militan – yang hati nuraninya membentang rasa sakit dan penderitaan ribuan orang – telah dilenyapkan, ditangkaap atau disidangkan."

Lima dari kritik Kadyrov dibunuh baru-baru ini dalam kejahatan yang tidak terselesaikan, yang paling akhir adalah penembakan misterius dari mantan angkatan darat teratas Sulim Yamadayev di Dubai pada 28 Maret lalu.

"Rakyat Checnya telah lama melupakan tentang perang tersebut," ia mengatakan.

"Kami mengembangkan, membangun, dan memulihkan ekonomi republik,"

Kadyrov yang kekar dan berjenggot tersebut hidup dalam sebuah benteng bergaya pertengahan dengan dua singa batu menjaga pintu masuk, berkendara sendiri mengelilingi Checnya dengan salah satu dari mobil-mobil mewah buatan barat miliknya.

Rupert Wingfield-Hayes, seorang analis BBC, mempertanyakan kekutan berkembang Kadyrov, ia sendiri seorang mantan pejuang independen, dianggap sebagi sebuah ancaman yang mungkin bagi Rusia.

"Ia sering teliti untuk menyatakan kesetian absolutnya kepada penasehatnya di Kremlin," ia menulis pada Kamis.

"Tetapi pada waktu yang sama, ia menjalankan Checnya seperti sebuah kelompok feodal independen maya. Beberapa di Moskow bertanya-tanya berapa lama kesetian tersebut akan bertahan."(suaramedia)

No comments:

Post a Comment